Batas AI Berikutnya: Bukan Kecerdasan, tetapi Kebijaksanaan Buatan
Muncul seruan di kalangan laboratorium AI bahwa kemampuan AI generatif dan model bahasa besar (LLM) saat ini dinilai terbatas, sehingga diperlukan jalur baru untuk membuat kemajuan signifikan, yaitu dengan merancang dan menanamkan kebijaksanaan buatan (artificial wisdom) ke dalam AI. Gagasan tersebut didasari oleh anggapan bahwa AI konvensional tidak memiliki apa yang diperlukan untuk menunjukkan atau mengekspresikan kebijaksanaan. Karena itu, kebijaksanaan buatan harus diciptakan.
Namun, ada kendala besar: terjadi perdebatan sengit mengenai dua landasan yang sangat penting, yaitu apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan manusia dan apakah kebijaksanaan buatan akan sama atau tersusun secara berbeda. Jika definisi kebijaksanaan buatan tidak dapat dipastikan, maka tidak ada yang bisa dengan mudah menargetkan penciptaannya, dan kita juga tidak akan sepakat bahwa kebijaksanaan buatan telah berhasil dibuat.
Mungkin ada yang mengira persoalan ini hanya perdebatan filosofis belaka. Padahal, jika kebijaksanaan buatan benar-benar ada dan diwujudkan, hal itu akan sepenuhnya mengambil alih pasar AI dan membawa AI pada lintasan yang lebih tinggi menuju kecerdasan umum buatan (AGI) yang sesungguhnya.
AI generatif umumnya dibangun dengan memindai banyak tulisan yang tersebar di internet. Semua LLM terkenal melakukan ini, termasuk ChatGPT dan GPT-5 dari OpenAI, Claude dari Anthropic, Gemini dari Google, Copilot dari Microsoft, serta Grok dari xAI. Pemindaian itu memungkinkan AI melakukan pencocokan pola pada tulisan manusia. Pola tersebut kemudian disimpan dalam struktur data berskala besar yang didasarkan pada aspek jaringan saraf manusia, yang diimplementasikan sebagai jaringan saraf buatan (ANN).
Setelah pelatihan awal, pembuat AI melakukan proses penyesuaian yang disebut RLHF (reinforcement learning from human feedback). Proses ini melibatkan penguji manusia yang memberi umpan balik kepada AI. Penguji mengajukan berbagai pertanyaan dan menilai jawaban yang diberikan. Penilaian positif dan negatif itu memberikan arah matematis dan komputasional bagi AI dalam menjawab pertanyaan. Misalnya, jika penguji ingin memastikan AI bersikap sopan dalam interaksi, mereka akan memberi nilai positif pada jawaban yang mengandung kata "tolong" dan "terima kasih".
Ada pula cara lain untuk membentuk LLM. Pembuat AI biasanya memberikan perintah sistem (system prompt) yang memberi tahu AI bagaimana bersikap terhadap pengguna. Upaya ini dimaksudkan untuk memandu AI dalam berperilaku setelah dirilis dan digunakan oleh publik.
Selama proses pemindaian dan penyesuaian itu, muncul pertanyaan: apakah AI menyerap semacam kebijaksanaan? Jika kebijaksanaan tercermin dalam tulisan manusia, misalnya dalam kisah orang-orang yang menunjukkan kebijaksanaan, mungkin AI akan meniru pola tersebut dan mampu menghadirkan kebijaksanaan. Sebagian pihak bersikeras bahwa kebijaksanaan hanya bisa diwujudkan dalam tubuh, dan manusia menyimpannya dalam hati, jiwa, serta pikiran. Jika demikian, karena AI adalah mesin, mustahil AI bisa memiliki kebijaksanaan. Tidak ada tempat untuk mewujudkannya. Hingga AI mencapai kesadaran dan memiliki "tubuh" humanoid, AI belum bisa dianggap mengandung kebijaksanaan.
Namun, argumen itu ditentang. Sebagian pihak menyebutnya omong kosong dan menunjuk argumen perwujudan yang sudah gugur sebelumnya. Contohnya, dulu diklaim bahwa AI tidak bisa berempati karena tidak memiliki tubuh untuk mewujudkan empati. Klaim itu bermasalah karena penelitian berulang kali menunjukkan bahwa orang yang menggunakan AI saat ini sering menganggap AI sama empatiknya, bahkan lebih empatik, dibandingkan manusia yang mereka kenal.
Persoalan lain adalah tidak ada kesepakatan universal tentang apa sebenarnya kebijaksanaan. Perdebatan besar telah berlangsung lama dalam sejarah manusia. Sebagian orang mengatakan kebijaksanaan itu seperti seni: tergantung siapa yang melihatnya; kamu tahu ketika melihatnya. Sebagian lain berpendapat kebijaksanaan adalah ketika seseorang membuat keputusan yang baik dan menggunakan pertimbangan yang tajam.
Apakah kebijaksanaan bergantung pada kecerdasan? Sebagian orang mengklaim kebijaksanaan terpisah dari kecerdasan. Seseorang bisa cerdas dan bijaksana, atau tidak cerdas tetapi tetap bijaksana; hubungan keduanya tidak ada. Namun, ada juga yang berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, seseorang harus memiliki kecerdasan untuk bisa memiliki kebijaksanaan. Kebijaksanaan berada di atas dasar kecerdasan; tanpa kecerdasan yang cukup, tidak ada kemungkinan untuk bijaksana. Selain itu, orang yang sangat cerdas pun belum tentu bijaksana. Mereka harus berusaha untuk memperoleh kebijaksanaan. Banyak orang cerdas dalam sejarah yang hebat dalam matematika atau sains, tetapi sering menunjukkan kurangnya kebijaksanaan dan membuat pilihan yang keliru dalam hidup.
Jika diasumsikan ada kebijaksanaan manusia dan mungkin ada sesuatu yang disebut kebijaksanaan buatan, maka muncul dua pandangan. Satu sudut pandang dogmatis menyatakan bahwa kebijaksanaan buatan harus persis sama dengan kebijaksanaan manusia. Pandangan lain menyatakan bahwa jika kebijaksanaan buatan dapat terlihat seperti kebijaksanaan manusia, maka kita dapat dengan wajar menyatakan kebijaksanaan buatan itu ada. Dengan kata lain, jika sebuah AI menampilkan perilaku yang menyerupai kebijaksanaan manusia, kebijaksanaan buatan dapat dianggap telah terwujud.