ChatGPT Viral sebagai "Terapis" Baru Gen Z, Pakar Kesehatan Mental Angkat Bicara
Jakarta, 25 Mei 2025 – Sebanyak 16,7 juta unggahan dari pengguna TikTok pada bulan Maret saja membahas penggunaan ChatGPT sebagai terapis, namun para profesional kesehatan mental mulai menyoroti tren yang berkembang di mana kecerdasan buatan digunakan untuk menangani kecemasan, depresi, dan tantangan kesehatan mental lainnya.
Fenomena ini viral di media sosial ketika banyak pengguna, terutama dari kalangan Gen Z, mengaku memanfaatkan chatbot AI sebagai pengganti terapis. Pengguna dengan akun @christinazozulya membagikan video di TikTok pada bulan lalu bahwa ChatGPT telah membuat dirinya menjadi pribadi yang tidak mudah cemas, baik dalam hal percintaan, kesehatan, maupun karier. Ia mengaku setiap kali merasa cemas, alih-alih mengirim pesan berlebihan kepada orang tua atau teman, ia lebih dulu merekam suara dan mengirimkannya ke ChatGPT. Menurutnya, platform itu mampu menenangkan dan memberikan kelegaan yang tidak selalu mudah didapatkan oleh semua orang.
Pengguna lain, @karly.bailey, juga mengaku menggunakan platform tersebut "sepanjang waktu" sebagai terapi gratis karena bekerja di perusahaan rintisan dan tidak memiliki asuransi kesehatan. Ia menceritakan bahwa ia akan memberi tahu ChatGPT segala hal yang sedang terjadi dan perasaannya secara detail, seperti sedang curhat kepada sahabat, dan chatbot itu akan memberikan saran terbaik. Ia juga menyebut ChatGPT memberikan prompt jurnal atau EFT (emotional freedom tapping) sesuai kebutuhan pengguna.
Para pengguna tersebut bukanlah kasus yang terisolasi. Sebuah studi dari Tebra, sistem operasi untuk penyedia layanan kesehatan independen, menemukan bahwa satu dari empat warga Amerika lebih cenderung berbicara dengan chatbot AI daripada menjalani terapi. Di Inggris, sejumlah anak muda memilih manfaat praktis dari konsultan kesehatan mental AI untuk menghindari waktu tunggu lama di layanan National Health Service (NHS) dan biaya konseling privat yang dapat mencapai sekitar 400 poundsterling atau sekitar 540 dolar AS.
Menurut The Times, data dari Rethink Mental Illness menunjukkan lebih dari 16.500 orang di Inggris masih menunggu layanan kesehatan mental setelah 18 bulan. Hal ini mengindikasikan bahwa beban biaya, waktu tunggu, dan hambatan lain dalam mencari layanan kesehatan dapat memperkuat dorongan untuk menggunakan metode yang lebih hemat biaya dan praktis.
Meski demikian, para kritikus menilai meskipun bot virtual ini mudah diakses dan praktis, mereka juga tidak memiliki empati manusiawi dan berisiko membuat orang yang berada dalam kondisi krisis tidak pernah mendapatkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dr. Kojo Sarfo, tokoh media sosial dan pakar kesehatan mental, mengungkapkan kepada Fox News Digital bahwa ia telah mencoba berbicara dengan ChatGPT dan menguji beberapa perintah untuk melihat responsivitasnya. Menurutnya, ChatGPT cenderung mengambil informasi dari Google, mensintesisnya, dan dapat mengambil peran sebagai terapis. Beberapa GPT, seperti Therapist GPT, memang dirancang khusus untuk memberikan "kenyamanan, saran, dan dukungan terapeutik."
Meskipun lebih hemat biaya dibandingkan terapi tradisional, dengan langganan ChatGPT Plus sebesar 20 dolar AS per bulan yang menawarkan akses tanpa batas, respons lebih cepat, dan manfaat lainnya, platform tersebut tidak dapat menggantikan profesional yang mampu membuat diagnosis, meresepkan obat, memantau perkembangan, atau menangani masalah yang berat.
"Chatbot itu bisa terasa terapeutik dan memberikan dukungan kepada orang, tetapi saya tidak berpikir itu pengganti terapis sesungguhnya yang mampu membantu mengarahkan masalah kesehatan mental yang lebih kompleks," tambah Sarfo.
Ia menekankan bahwa bahaya muncul ketika orang menyamakan saran dari alat seperti ChatGPT dengan saran dari profesional berlisensi yang memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam menangani masalah kesehatan mental dan telah belajar menyesuaikan pendekatan mereka dengan berbagai situasi. Sarfo khawatir terhadap orang-orang yang mungkin membutuhkan obat psikotropika, lalu menggunakan kecerdasan buatan untuk merasa lebih baik dan menganggapnya sebagai terapi. Padahal, terapi dan obat-obatan terkadang diperlukan secara bersamaan, sehingga tidak ada cara untuk mendapatkan perawatan obat yang tepat tanpa menemui profesional yang sebenarnya.
Namun, ada beberapa aspek dari chatbot yang bisa bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan dukungan, terutama bagi orang yang ingin berdiskusi dengan dokter mengenai kondisi yang mereka duga, seperti ADHD. Dengan begitu, mereka dapat membawa pengetahuan tersebut ke janji temu dokter.
"[Anda dapat] menuliskan beberapa pertanyaan yang tegas, dan Anda dapat menyampaikannya kepada penyedia layanan kesehatan dan mengartikulasikan gejala dengan lebih baik. Jadi saya pikir itu adalah peran yang membantu yang dapat dimainkan oleh kecerdasan buatan, tetapi dalam hal terapi yang sebenarnya atau nasihat medis yang sebenarnya, jika orang mulai mengandalkannya, itu adalah hal yang buruk. Itu mulai memasuki wilayah yang abu-abu," kata Sarfo.
Sebelumnya pada tahun ini, Christine Yu Moutier, M.D., Chief Medical Officer di American Foundation for Suicide Prevention, juga telah memperingatkan terhadap penggunaan teknologi tersebut untuk nasihat kesehatan mental. Kepada Fox News Digital, ia menyampaikan bahwa terdapat "kesenjangan kritis" dalam penelitian mengenai dampak yang diinginkan dan tidak diinginkan dari AI terhadap risiko bunuh diri, kesehatan mental, dan masyarakat secara lebih luas.