NewsAI
news
Google Tarik Fitur Pembuatan Gambar AI dari Google Earth Setelah Kecaman Luas

Google Tarik Fitur Pembuatan Gambar AI dari Google Earth Setelah Kecaman Luas

Google menghapus fitur pembuatan gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) dari layanan peta satelit Google Earth, hanya sehari setelah diluncurkan, setelah menuai kecaman luas karena dianggap dapat mempermudah penyebaran informasi palsu. Fitur tersebut sebelumnya memungkinkan pengguna menghasilkan gambar tiruan yang tampak realistis di atas citra satelit asli.

Dalam pengumuman awal pada Kamis, Google menyatakan fitur itu dapat "menghidupkan sejarah" atau "memberi wajah baru pada tempat favorit Anda", dan merekomendasikan pengguna menggunakannya untuk membuat rencana properti atau infografis khusus. Sehari kemudian, Google menarik fitur tersebut dan menyatakan sedang menyusun pengaman tambahan yang lebih kuat untuk pembuatan gambar.

"Kami tahu bahwa orang-orang secara khusus memercayai Google Earth sebagai gambaran dunia yang andal. Kami telah melihat para profesional geospasial menggunakan fitur ini untuk berbagai tujuan yang berguna, tetapi kami juga melihat orang-orang membagikan tangkapan layar dari gambar yang dihasilkan yang tampaknya melanggar kebijakan kami," demikian pernyataan resmi Google.

Google juga mencatat bahwa gambar-gambar hasil AI telah diberi tanda air. Namun, Hank van Ess, ahli metode riset daring, menulis dalam blognya bahwa tanda air itu hanya berfungsi dengan produk Google—misalnya, menggunakan Gemini untuk menganalisis foto yang dihasilkan AI.

Risiko pembuatan gambar AI di Google Earth tidak dapat diselesaikan hanya dengan tanda air. Emmanuelle Saliba, kepala bagian investigasi perusahaan pendeteksi AI GetReal, mengatakan kepada The Washington Post bahwa tanda air dan pengaman serupa tidak cukup untuk melindungi dari misinformasi. "Mereka tidak mengubah cara orang mengonsumsi informasi. Gambar sering kali dilihat dan dibagikan dalam hitungan detik, sementara verifikasi keaslian biasanya membutuhkan upaya dan konteks tambahan, sehingga beban itu jatuh pada konsumen."

Van Ess juga menunjukkan bahaya yang muncul dari arah sebaliknya: bukan konsumen yang tertipu oleh misinformasi, melainkan otoritas yang memiliki alibi untuk mengklaim gambar asli sebagai kebohongan. "Seorang pejabat kini dapat melihat foto asli dari kekejaman yang nyata dan berkata: AI," tulisnya di blognya pada Kamis. "Dia tidak membutuhkan alat itu. Dia butuh semua orang tahu bahwa alat itu ada."

Bagikan: