Para Peneliti Mendorong Paradigma Kebijaksanaan Buatan Sebagai Langkah Menuju AGI
Para peneliti kecerdasan buatan (AI) semakin banyak mendiskusikan keterbatasan AI generatif dan Large Language Models (LLM) saat ini, mengusulkan "Kebijaksanaan Buatan" (Artificial Intelligence/AW) sebagai batas baru untuk kemajuan signifikan menuju Artificial General Intelligence (AGI). Analisis ini disajikan oleh Dr. Lance B. Eliot dalam kolom Forbes tanggal 24 Juli 2026. Argumen utamanya menyatakan AI konvensional tidak memiliki kapasitas untuk menampilkan kebijaksanaan, sehingga AW harus diciptakan. Namun, ada perdebatan sengit mengenai dua landasan krusial: definisi kebijaksanaan manusia dan apakah AW harus mereplikasi atau hanya meniru kebijaksanaan tersebut. Jika definisi AW tidak jelas, pengembangannya tidak bisa ditargetkan maupun diverifikasi. Eliot menegaskan ini bukan perdebatan filosofis semata, karena siapa pun yang berhasil mewujudkan AW akan mendominasi pasar AI dan mempercepat pencapaian AGI sejati.
Latar belakang teknis LLM dijelaskan sebagai dasar pemahaman. Pelatihan awal melibatkan pemindaian data tulisan masif dari internet oleh model seperti ChatGPT/GPT-5 (OpenAI), Claude (Anthropic), Gemini (Google), Copilot (Microsoft), dan Grok (xAI). Pola-pola disimpan dalam jaringan saraf tiruan (Artificial Neural Network/ANN) yang terinspirasi struktur otak manusia. Tahap penyempurnaan menggunakan Reinforcement Learning from Human Feedback (RLHF), di mana penguji manusia memberikan rating (upvote/downvote) pada jawaban AI untuk mengarahkan perilaku, misalnya kesopanan. Prompt sistem-wide juga digunakan untuk mengatur perilaku AI saat dirilis ke publik.
Pertikaian utama muncul saat proses pelatihan: apakah AI menangkap semacam kebijaksanaan? Jika kebijaksanaan tercermin dalam tulisan manusia, AI mungkin memodelkan aspek tersebut. Namun, pandangan "embodiment" berpendapat kebijaksanaan hanya bisa diwujudkan dalam hati, jiwa, dan pikiran manusia, sehingga mesin tidak bisa memilikinya. Argumen ini dibantah dengan preseden empati: dulu diklaim AI tidak bisa empati karena tidak memiliki "embodiment", namun penelitian terbaru menunjukkan AI justru sering dinilai lebih empati daripada manusia dalam konteks tertentu. Hal ini membuka kemungkinan AW bisa muncul tanpa "embodiment" biologis.