Sepuluh Ribu Agen AI Mencapai Konsensus Spontan, Rover Mars Temukan Mineral Permata, hingga Uji Coba Transplantasi Mikroba untuk Alergi Kacang
JAKARTA — Sebuah rangkuman mingguan ilmu pengetahuan memuat sejumlah temuan terbaru mulai dari perilaku kolektif kecerdasan buatan, penemuan mineral corundum di Mars oleh rover Perseverance, teknik berburu langka lumba-lumba di Australia, menurunnya keanekaragaman sayuran global, hingga uji coba klinis pertama jenisnya menggunakan transplantasi mikrobiota feses untuk mengatasi alergi kacang tanah, serta ancaman perubahan iklim terhadap anggur Pinot Noir, seperti dilansir ScienceAlert, Jumat (14/3/2025).
Dalam studi yang diterbitkan di Science Advances, peneliti menunjukkan bagaimana 1.000 agen AI yang ditempatkan dalam ruang virtual dapat mencapai kesepakatan spontan tanpa instruksi untuk berkooperasi, tanpa hadiah, dan tanpa pemimpin. Setiap agen diminta memilih antara dua opsi yang tidak bermakna dan tidak memiliki jawaban benar, namun beberapa model AI paling canggih saat ini justru cenderung membuat pilihan yang sama. Temuan ini mengindikasikan bahwa kelompok besar agen AI berpotensi berkoordinasi tanpa kontrol sentral, membentuk kolektif yang melebihi ukuran kelompok manusia non-formal, dengan implikasi yang bisa bersifat menguntungkan maupun berbahaya.
Di Planet Merah, rover Perseverance milik NASA menemukan kejutan saat menembakkan laser ke batuan pucat di Krater Jezero pada 2025. Analisis spektrum mengungkap keberadaan mineral corundum, bahan kristalin yang di Bumi membentuk ruby dan safir. Para ilwan bahkan mendeteksi keberadaan kromium, elemen yang memberikan warna merah muda khas pada ruby. Penemuan ini merupakan kali pertama mineral tersebut diidentifikasi di Mars, membuka pertanyaan baru mengenai sejarah geologi dan kondisi pembentukan batuan di planet tersebut.
Di perairan Hervey Bay, Queensland, Australia, peneliti dari University of the Sunshine Coast berhasil merekam video langka lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus) yang menggunakan teknik berburu "shelling". Hewan yang dikenal sebagai buthu dalam bahasa Butchulla ini terlihat membawa kerang di hidungnya untuk mengejar mangsa yang bersembunyi di dalamnya. Video-video tersebut disajikan dalam studi yang diterbitkan di Marine Mammal Biology. Ekolog perilaku Alexis Levengood mengungkapkan ia segera mengenali perilaku tersebut begitu melihat kerang terbang ke udara, menegaskan langkanya pengamatan langsung pencatatan perilaku ini.
Di sisi lain, laporan internasional yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences memperingatkan bahwa keanekaragaman sayuran di dunia semakin menipis, diam-diam merusak pola makan dan kesehatan manusia. Tim ahli nutrisi, pertanian, dan botani menyarankan agar pengelolaan keanekaragaman hayati sayuran dijadikan kunci untuk memperbaiki kesehatan manusia dan planet. Ilmuwan pertanian Maarten van Zonneveld, yang memimpin penelitian saat bertugas di World Vegetable Center, menegaskan pendekatan pertanian existing tidak cukup untuk memecahkan masalah gizi global. "Solusinya bukan sekadar menanam lebih banyak sayuran – tapi juga menanam lebih banyak jenis sayuran," ujarnya.
Dalam ranah medis, uji coba klinis pertama kali jenisnya menunjukkan hasil "menarik" untuk pengobatan alergi makanan melalui mikrobioma usus. Peneliti memberikan kapsul yang berisi mikrobiota feses — komunitas bakteri usus yang diproses dengan hati-hati dari donor sehat — kepada 15 dewasa dengan alergi kacang tanah. Teknik transplantasi materi feses (FMT) ini bertujuan "mereset" mikrobioma usus. Meskipun FMT sebelumnya telah menunjukkan potensi meredakan depresi, penyakit radang usus, dan diabetes tipe 2 (meski tidak efektif untuk semua orang), serta penelitian pada tikus membuktikan kultur bakteri usus tertentu menekan alergi makanan, data manusia terbaru ini memberikan bukti awal bahwa transplantasi feses mungkin membantu cara serupa.
Terakhir, ancaman perubahan iklim mulai terasa nyata oleh industri perkebunan anggur. Seiring Eropa Barat menghadapi musim panas terpanas dalam catatan, petani di wilayah penghasil anggur terkemuka dunia memulai panen lebih awal — asalkan buah-buahan mereka tidak terbakar oleh kebakaran dan kekeringan. Studi terbaru para ahli vitikultur dari institut di Prancis, Jerman, dan Argentina menilai ketahanan dua kultivar anggur paling populer, Pinot noir dan Chardonnay, menghadapi kekeringan yang semakin sering seiring berlanjutnya perubahan iklim dalam tahun-tahun mendatang. Hasilnya mengindikasikan masa depan Pinot noir semakin suram di tengah iklim yang lebih panas dan kering.