AI di Matematika: Apa yang Tetap Berharga untuk…
Dr Henry Bradford, seorang fellow matematika di Christ's College, University of Cambridge, mempertanyakan apakah matematika akan berkembang atau punah di era kecerdasan buatan dalam esainya di Mathematics Letters pada 27 Agustus 2026. Ia menjawab bahwa hal itu bergantung pada nilai apa yang diberikan masyarakat terhadap intelektualitas manusia. Bradford sepakat dengan Kasra Rafi dan Bruce Schneier bahwa terobosan matematika terbaru oleh AI hanyalah rekombinasi cerdas dari ide-ide yang sudah ada, bukan pengembangan teori yang benar-benar baru, sebagaimana ditulis dalam artikel berjudul "No, AI doesn't mean the end of mathematics – at least not yet" pada 25 Agustus.
Terobosan AI yang Mengguncang
Meski bersikap skeptis, Bradford mengakui bahwa beberapa bulan lalu ia sendiri akan menganggap mustahil AI mampu meraih terobosan seperti yang dicapai model Astra milik OpenAI. Model tersebut baru-baru ini menyelesaikan masalah penting dalam teori grup, yakni membuktikan keberadaan non-sofic groups, dengan bukti yang sebagian besar berupa sedikit penggantian pada teorema karya koleganya, Gabor Kun dan Andreas Thom. Pencapaian ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang tujuan penelitian matematika.
Memahami di Balik Membuktikan
Apakah matematika hanya soal membuktikan teorema baru, di mana AI masa depan mungkin jauh lebih unggul? Matematikus legendaris Amerika, Bill Thurston, menjawab tidak dalam esai tahun 1994 berjudul On Proof and Progress in Mathematics. Ia menyatakan bahwa matematikawan tidak sekadar menginginkan kumpulan jawaban, melainkan pemahaman. Dengan kata lain, matematika terdiri dari ide-ide yang hidup di otak manusia, dan teorema baru berfungsi sebagai penanda kemajuan dalam memahami serta membagikan ide-ide tersebut.
Dampak terhadap dunia akademik
Perkembangan AI diprediksi akan memicu perdebatan tentang nilai matematika yang dipraktikkan oleh manusia. Jika AI mampu memproduksi kertas penelitian lebih cepat dan murah daripada manusia, administrator universitas yang kesulitan keuangan pasti tergoda untuk menganggap peneliti matematika mereka tidak relevan. Namun menurut pandangan Thurston, hal tersebut merupakan kesalahan. Nilai pekerjaan para peneliti justru terletak lebih pada kontribusi mereka terhadap pelestarian dan penerusan pengetahuan matematika di kalangan manusia, bukan pada jumlah kertas yang mereka tulis.
Pertanyaan yang belum beres
Apakah matematika thrive atau perishes di era AI bukanlah sekadar pertanyaan teknis tentang kemampuan kecerdasan mesin masa depan, melainkan keputusan kolektif yang dibuat masyarakat tentang aspek apa dari intelektualitas manusia yang mereka pilih untuk dihargai.